Diarsipkan di bawah: Uncategorized
sumber : milis sukasukamu@yahoogroups.com
dipublikasikan untuk kepentingan sosial
KITTY CENTRE
Pertokoan Bona Indah A2/A10
Jl. Karang Tengah Raya, Jaksel
Ph. 7655129
Dwi Gantari Indonesia
(Bpk. Marjuki Ibu Evie Sabir)
Jl. Benda III No. 27-27A Kebayoran, Jaksel
Ph. 7247211
Klinik Sasana Husada
Jl. Kyai Maja 19 (depan RS Pertamina), Jaksel
Ph. 7222410
Yayasan Balita Mandiri
Jl. T.B. Simatupang Raya Plaza III
Pondok Indah Blok. E2, Jaksel 12310
Ph. 75900181
Yayasan Pelita Hatiku (Ibu Rumondang)
Jl. Mandar XX Blok. DD 13 No. 37
Sektor 3 Bintaro Jaya, Jaksel
Ph./Fax. 021 7357646
Klub Terapi Autirsma (Bpk. Tamtam S.)
Pamulang Permai II Jl. Benda Barat 8A
Blok D15 No. 8 Pamulang
Ph. 7405462
Yayasan Permata Hati Ibu
Jl. Gatot Subroto Komplek MBAU Pancoran Jaksel
Ph. 7995121
Pendidikan Dini An-Nur (Ibu Lilis Alis)
Jl. Ibnu Khaldun II No 21 Komplek IAIN Ciputat
Ph. 7418659
Klinik Tumbuh Kembang Anak YAMET
Jl. H. Ismail No. 15B Kompl. Taman Cilandak Jaksel
Ph. 7659839
Yayasan Lazuardi Hayati
Jl. Garuda Ujung No. 35 Griya Cinere
Ph. 7534841-43 Fax. 7534519
WILA KERTIA (Ibu Dewi Semarabhawa)
Jl. Maleo I Blok JA No. 20 Sektor IX
Bintaro Jaya , Jaksel
Ph. 7450426
Avanti Treatment Centre
Wisma Bayu Aji, Jl. Gandaria III/44 Jaksel
Ph. 7397616, Ph/Fax. 7397637
Klinik Tumbuh Kmbang Anak “Permata Hati”
Jl. Strada No. 29 (TK & SD Indriyasana)
Menteng Dalam Jaksel
Ph. 8354862 Hp. 0817-119725 (Ibu Hana)
Hikmah Autisme Centre (Ibu Kun Ganesti E.)
Jl. Maleo XIII Blok. JC VI No. 5 Sektor 9 Bintaro Jaya
Ph. 7451508 Fax. 7450559
Child Growth & Development Center (Ibu Endang)
Medika Plaza, International Clinic, Kartika Chandra Hotel Lt. 3. Jl.
Gatot Subroto Kav. 18-20 Jaksel
Ph. 5251207 Fax. 5210815
JAKARTA PUSAT
Terapi Wicara Sasana Bina Wicara
Jl. Kramat VII No. 27, Ph. 3140636
Yayasan Jambangan Kasih
Jl. Kramat VI no. 44, Ph. 3909175
JAKARTA TIMUR
KID Autis JMC (Dr. Rudi Sutadi, SpA)
Konsultas : JMC Jl. Buncit RAYA No. 15
Jaksel, Ph. 7940836/37
Terapi : Jl. Otista Raya No. 82 Jakarta Timur
Ph. 8198691/93 (depan apotik Fiducia)
Terapi Wicara & Bahasa Sinar Hati
(Ibu Rani Handayani)
Cipinang Timur Raya No. 61 Jakarta Timur
Ph. 4754439
Perkumpulan Terapis Rumah Koord. Ibu Ria
Telp. 0818-931495 (Ibu Ria)
Dini Centre
Jl. Kemuning IV G2 No. 17 Bumi Malaka Asri Duren Sawit Jakarta 13460
Ph. 86609971
Mutiara Bunda (Ibu Ima)
Legenda Wisata Ruko Byzantine Blok. F A2-3 Cibubur Jakarta Timur
Ph. 8236868 HP 0818-490902
KAIKILA (Ibu Evi Sabir Gitawan, B.Sc)
Jl. Pesona Paris C4 No. 27 Kota Wisata Cibubur
Ph. 84933623 Fax. 84590683, HP 0818-119505
Emal : [EMAIL PROTECTED]
JAKARTA BARAT (lagi…)
PERLU KEHATI-HATIAN MENEGAKKAN DIAGNOSA AUTISMEMenegakkan diagnosa autisme sesungguhnya tidak mudah, perlu kehati-hatian yang tinggi. Demikian yang dipesankan oleh JK Buitelaar, seorang professor psikiatri anak dari Universitas Nijmegen Negeri Belanda dalam suatu kesempatan ceramah tunggalnya selama dua hari tanggal 28-29 Januari 2006 yang lalu di Jogjakarta.
Selanjutnya, menurut ahli autis kaliber dunia yang sengaja didatangkan oleh Sekolah Lanjutan Autisme Fredofios dibantu oleh Terres Des Homes Nederland ini, mengatakan bahwa kehati-hatian itu sangat diperlukan karena dari hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga autisme di negaranya menunjukkan bahwa dengan menggunakan alat deteksi autisme yang kini sudah populer di dunia yang disebut CHAT bila digunakan untuk anak di bawah 18 bulan dan DSM IV bila digunakan untuk anak di bawah tiga tahun, penggunaan kedua alat deteksi ini akan menunjukkan kesalahan yang sangat tinggi. Kesalahan akan terjadi terutama terhadap anak-anak bergangguan perkembangan lain bukan autisme seperti anak-anak penyandang cacat inteligensia (mental retarded) dan anak-anak yang terlambat bicara yang juga dengan sendirinya akan mengalami gangguan sosial sebagaimana autisme.
Apa yang ditelitinya itu juga gambarannya tidak banyak berbeda dengan di negara-negara lain. Karena itu ia bersama dengan timnya tengah mempersiapkan alat deteksi autisme yang baru, yang kelak bisa lebih menyempurnakan deteksi dini autisme yang sudah ada. Untuk menghindari kekeliruan deteksi ini, maka diperlukan sekali pemeriksaan secara multidisiplin yaitu dilakukan oleh dokter, psikolog, dan orthopedagog yang sudah terlatih dan ahli.
Hal ini disebabkan karena autisme adalah suatu gangguan yang menyangkut banyak aspek perkembangan yang bila dikelompokkan akan menyangkut tiga aspek yaitu perkembangan fungsi bahasa, aspek fungsi sosial, dan perilaku repetitif. Karena gambaran autisme begitu beragam dan setiap saat seorang anak akan senantiasa mengalami perkembangan, maka penegakan diagnosa tidak bisa begitu saja, sebab bisa saja kemudian diagnosa menjadi berubah-ubah dari waktu ke waktu.
Setelah dilakukan berbagai observasi secara berkala oleh berbagai profesi tadi, disamping juga dilakukan tes psikologi, dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh barulah diagnosa itu boleh ditegakkan. Penegakan diagnosa ini seringkali juga memerlukan waktu yang panjang, enam bulan hingga satu tahun. Namun yang terpenting menurutnya adalah bukan penegakan diagnosa itu tetapi bagaimana kita mampu melihat berbagai gangguan sebagai faktor lemah yang dimilikinya, dan faktor kuatnya. Untuk anak di bawah tiga tahun menurutnya pula sebaiknya jangan mengunakan DSM IV, dan CHAT jangan digunakan juga untuk anak di bawah usia 18 bulan.
Buitelaar juga memperagakan bagaimana mendeteksi dini berbagai gejala autisme melalui alat deteksi yang bersama timnya tengah disusunnya dalam sebuah proyek yang disebut Project SOSO. Alat deteksi dini autisme yang baru ini bernama ESAT (Early Screening Autism Traits), ia memperagakannya dengan menunjukkan film yang sangat menarik. Ia juga memperlihatkan bahwa anak usia di bawah tiga tahun seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan penyandang autisme, atau sebaliknya gejala yang ada pada anak autis sering juga ditunjukkan oleh anak-anak yang mempunyai gangguan perkembangan lainnya.
Karena itu disinilah para dokter dan psikolog harus benar-benar mampu mengamati dengan baik. Orang tua diminta untuk dapat mengungkapkan dengan baik bagaimana perilaku anaknya tersebut dengan berpatokan pada gejala-gejala yang ditampilkan oleh anak-anak normal, sehingga dapat diketahui bagaimana penyimpangan yang terjadi. Setidaknya perlu adanya pengamatan berkala setiap tiga bulan, dilakukan evaluasi guna menentukan tindakan apa yang perlu kita perbaharui.
Kelanjutan penyusunan deteksi dini (ESAT) ini adalah, Project SOSO-nya tengah membangun suatu model untuk memberikan intervensi dini yang sesuai dengan keunikan yang disandang oleh setiap anak autisme. Hasil Project SOSO kali ini dinamakan DIANE (Diagnostic Intervention Autism Nederland). Sehingga Project SOSO yang tengah dikembangkannya ini kelak, akan menghasilkan suatu model dalam bentuk tatalaksana screening atau deteksi dini autisme di usia 24 bulan, penegakan diagnosa di atas usia 36 bulan, dan melakukan indentifikasi keunikan setiap anak autis, memberikan panduan dan training intervensi kepada setiap orang tua.
Akan halnya tentang penyebab autisme sampai saat ini menurutnya masih belum bisa diketahui. Namun, banyak sekali publikasi di masyarakat yang justru datang dari pihak-pihak yang tidak didasarkan oleh penelitian ilmiah, seperti yang banyak ditanyakan oleh para peserta. Misalnya penyebab autisme karena thimerosal dalam vaksin, virus vaksin, keracunan logam berat, alergi terutama gluten dan kasein, sistem imun tubuh, dan sebagainya.
Sementara itu para ilmuwan yang berkecimpung dalam bidang autisme menyatakan bahwa kemungkinan besar penyebab autisme adalah faktor kecenderungan yang dibawa oleh genetik. Sekalipun begitu sampai saat ini kromosom mana yang membawa sifat autisme belum dapat diketahui. Sebab pada anak-anak yang mempunyai kondisi kromosom yang sama akan bisa juga memberikan gambaran gangguan yang berbeda.
Namun para ahli lebih cenderung akan menyatakan bahwa penyebab autisme kemungkinan besar adalah faktor gen yang membawa peranan, hal ini disimpulkan dari hasil penelitian terhadap kembar satu telur yang akan menunjukkan kemungkinan terjadinya gangguan autisme yang lebih tinggi secara signifikan bila dibandingkan dengan kembar dua telur. Autisme adalah gangguan atau kecacatan yang akan disandang oleh individu tersebut seumur hidupnya.
Di kalangan luas juga ada publikasi yang mengatakan bahwa autisme dapat disebabkan berbagai gangguan di tiga bulan pertama kehamilan. Menurut Buitelaar hal ini juga masih belum bisa dikatakan apakah benar demikian, karena penelitiannya belum selesai,dan hasilnya belum ada.
Pertanyaan tentang berbagai pengobatan autisme saat ini yang banyak digunakan bahkan seringkali juga atas anjuran dokter (yang bergerak dalam terapi alternatif), misalnya detoksifikasi untuk menghilangkan racun di otak, diet bebas gluten dan casein, probiotik, megadosis vitamin, hormon, dan sebagainya. Buitelaar menanggapi bahwa karena hingga kini penyebab autisme belum bisa dipahami secara pasti maka para dokter juga belum bisa menentukan obatnya.
Ia menyarankan agar para orang tua tak perlu terkesima dengan reklame komersial yang menyatakan bahwa autisme dapat diobati, sebab menurutnya selain pengobatan model intervensi biologis itu sangat mahal, tidak ada efeknya, juga cukup berbahaya bagi si anak sendiri. Bila dokter memberikan resep obat-obatan psikostimulan, hal itu bukan untuk menyembuhkan autisme, tetapi hanya sekedar untuk mengendalikan emosi dan perilakunya.
Yang terpenting pesannya adalah bagaimana kita harus menanganinya dengan cara melihat faktor lemah dan faktor kuatnya dengan pendekatan psikologi dan pedagogi, yaitu arahkan perilakunya, tingkatkan kecerdasannya, latih kemandirian, ajarkan kerjasama, dan ajarkan bersosisalisasi.
Ia juga menganjurkan jangan berikan obat-obatan psikiatrik atau psikostimulan kepada anak-anak di bawah 6 tahun. Utamakan pendekatan psikologi dan pedagogi, jika cara-cara ini sudah tidak dimungkinkan barulah bisa diberikan obat- obatan. Para orang tua juga berhak menanyakan apa efek samping dan harapan apa yang bisa dicapai dengan menggunakan psikostimulan itu.Karena bagaimanapun reaksi setiap anak terhadap obat akan berbeda-beda, sehingga diperlukan pemantauan yang baik secara rutin. Di samping itu sampai saat ini belum ada penelitian obat- obatan pada anak di bawah usia 6 tahun, sehingga kita masih belum tahu efek jangka panjangnya
Akhir-akhir ini semakin banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standar diagnosa DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spektrum Autis.
Selain ada perbedaan di antara keduanya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis klasik yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeda (varying degree), bisa dari mild, moderate, to severe.
Tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 – 3 tahun, anak asperger baru bisa terdekteksi, biasanya pada saat berumur di antara 6-11 tahun.baca selengkapnya…
Tidak seperti kebanyakan anak autis, anak asperger memang tidak menunjukkan keterlambatan bicara, punya kosa kata yang sangat baik, walaupun agak sulit untuk mengerti bahasa “humor dan ironi”. Mereka pun kebanyakan mempunyai intelligence yang cukup baik bahkan di atas rata-rata.
Oleh karena itu biasanya secara akademik, biasanya mereka tidak bermasalah, dan mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum dengan baik.
Sedangkan penyandang autis klasik, sebagian besar terdiagnosa mempunyai IQ dibawah normal bahkan masuk kategori moderate mental retardasi.
Tantangan terbesar bagi penyandang asperger adalah dalam hal bersosialisasi dan berinter-aksi.
Pada umumnya, anak asperger suka untuk berteman, walaupun dengan gaya bahasa dan mimik yang formal dan terlihat “aneh”. Mereka sulit memulai percakapan dan sulit mengerti makna dari interaksi sosial.
Kesulitan anak asperger dalam bersosialisasi dapat/akan membuat mereka menjadi sangat stress di sekolah. Banyak kendala akan ditemukan pada saat anak asperger memasuki masa remaja /akil-balik (SMP/SMU).
Untuk menghadapi masalah itu, orang tua disarankan untuk segera mencari ahli yang profesional (care dan knowledgable) dan melakukan intervensi yang diperlukan se-segera mungkin dengan berterus terang kepada guru (pendidik) dan kepala sekolah dengan melihatkan atau membawa referensi dari ahli tsb.
Tanpa pemberitahuan dari orang tua, pihak sekolah dan teman-teman anak asperger sulit untuk mengetahui bahwa mereka “berbeda” karena anak asperger tidak mudah dikenali seperti halnya anak autis klasik. Hal inilah biasanya yang dapat menjadi pemicu berbagai masalah serius pada anak asperger.
Walaupun sebagian orang menganggap bahwa asperger adalah mild autis (autis ringan), treatment dan intervensi tetap harus dilakukan. Sebagian besar program2 terapi untuk anak asperger biasanya bersifat direct teaching / langsung di dibuat untuk memperbaiki skill yang mereka belum kuasai misalnya di-bidang sosialisasi, mengerjakan/menyelesaikan pekerjaan sekolah dan cara membagi waktu (time management). Anak asperger juga akan sangat terbantu jika banyak dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti belajar dalam kelompok kecil (support group), sport club, dimana mereka dapat berlatih, share experience mereka dan saling belajar dari teman mereka. Ada juga satu terapi yang cukup baik untuk anak asperger yaitu terapi RDI (Relationship Development Intervention) didevelop oleh Dr. Steven Gutstein.
Demikian sedikit info, semoga bermanfaat.
Referensi:
1. Dr. Alan Harchik, Asperger’s Syndrome Differs From Autism, From The Republican, Springfield, MA
2. http://puterakembara.org/asindo.shtml – Asperger Syndrome menurut Skala Australia
3. http://puterakembara.org/apaas.shtml – Apakah Asperger Syndrome itu ?